Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
botosbiopharm.combotosbiopharm.com
botosbiopharm.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Rindu Ortu Jadi Sekadar Status, Ini 5 Salah Kaprah...

Rindu Ortu Jadi Sekadar Status, Ini 5 Salah Kaprah Mahasiswa Perantau

Mahasiswa perantau sering salah kaprah soal hubungan dengan orang tua. Ini kesalahan umum dan cara menghindarinya.

Rindu Ortu Jadi Sekadar Status, Ini 5 Salah Kaprah Mahasiswa Perantau

Jujur aja, jadi mahasiswa perantau itu campur aduk rasanya. Di satu sisi kamu bebas, nggak ada yang nanya "udah makan belum?" tiap lima menit. Tapi di sisi lain, ada rasa bersalah yang suka nyelip diam-diam tiap kali kamu sadar udah seminggu nggak nelpon rumah.

Gue ngalamin itu waktu kuliah di kota lain. Awalnya seru, lama-lama jadi rutinitas yang hambar. Dan lucunya, kesalahan-kesalahan yang bikin hubungan sama ortu jadi renggang itu nggak datang dari niat buruk. Justru sering datang dari hal-hal yang kita kira wajar.

Nah, ini beberapa salah kaprah yang sering banget dilakukan mahasiswa perantau — dan cara menghindarinya sebelum hubunganmu sama orang tua cuma jadi status WhatsApp yang numpuk.

Salah Kaprah #1: Mikir "Nanti Aja Nelpon Kalau Udah Ada Waktu Luang"

Ini kesalahan paling klasik. Kamu nunda nelpon karena ngerasa besok masih ada waktu, minggu depan lebih longgar, atau nunggu momen yang pas. Padahal momen yang pas itu nggak pernah datang sendiri.

Baca juga: Salah Kaprah Pola Asuh Anak di Kampung, Orang Tua Wajib Tahu

Yang terjadi justru sebaliknya: waktu luang itu nggak pernah benar-benar ada. Selalu ada tugas, selalu ada acara, selalu ada alasan. Dan tanpa sadar, dua minggu jadi sebulan, sebulan jadi tiga bulan. Ortu di rumah mulai nanya-nanya ke saudara, "Anakku masih hidup nggak sih?"

Solusinya simpel tapi sering diabaikan: jadwalin, jangan tunggu mood. Nggak perlu nelpon sejam. Lima belas menit sambil nunggu kelas atau sambil nyuci baju juga cukup. Yang penting rutin, bukan durasi.

Orang tua itu nggak butuh kamu nelpon tiap hari dengan cerita panjang. Mereka cuma pengin tahu kamu masih inget mereka.

Salah Kaprah #2: Cuma Ngabarin Kalau Butuh Duit atau Lagi Ada Masalah

Gue pernah di fase ini. Chat ke ibu cuma kalau saldo tipis. Telepon ke bapak cuma kalau ada urusan administrasi kampus. Di luar itu, hilang tanpa kabar.

Nggak heran kalau ortu jadi punya asosiasi aneh: begitu HP bergetar dan nama kamu muncul, mereka langsung mikir "aduh, anakku kenapa lagi." Padahal kamu cuma pengin cerita hal receh.

Coba deh sesekali kirim hal-hal nggak penting. Foto makanan yang menurutmu enak, cerita dosen yang lucu, atau sekadar "hari ini panas banget ya, Bu." Hal-hal kecil kayak gini yang bikin komunikasi nggak terasa transaksional. Ortu jadi tahu kamu masih mikirin mereka, bukan cuma mikirin dompet mereka.

Salah Kaprah #3: Ngerasa "Ortu Nggak Akan Ngerti Hidupku Sekarang"

Ini jebakan yang halus. Kamu mulai ngerasa dunia kampus, pertemanan, atau tekanan akademikmu terlalu rumit buat dijelasin ke ortu. Akhirnya kamu pilih cerita ke teman aja, dan ke ortu cuma bilang "baik-baik aja kok."

Padahal, ortu nggak harus paham detail teknisnya. Mereka cuma pengin tahu kamu lagi struggling atau nggak. Kamu nggak perlu jelasin apa itu revisi bab tiga atau drama organisasi. Cukup bilang, "lagi banyak tugas, capek, tapi masih kuat kok." Itu udah cukup bikin mereka tenang.

Dan jujur aja, kadang yang bikin kita ngerasa ortu nggak ngerti itu karena kita sendiri yang nggak pernah kasih kesempatan mereka buat ngerti. Kita tutup pintu duluan, terus nyalahin mereka nggak bisa masuk.

Bukan soal mereka ketinggalan zaman, tapi soal kita yang malas menjelaskan.

Salah Kaprah #4: Balas Chat Ortu Pakai Stiker Doang

Kamu tahu kan rasanya kirim pesan panjang lebar, dibalas "👍". Nah, ortu kamu juga ngerasain itu. Bedanya, mereka nggak akan protes. Mereka cuma diam, terus mikir "mungkin anakku sibuk."

Balas chat ortu pakai stiker atau "iya" doang itu bukan efisiensi, itu bentuk keengganan yang dibungkus sopan. Sesekali nggak masalah. Tapi kalau tiap hari kayak gitu, lama-lama ortu berhenti ngirim pesan karena ngerasa nggak dihargai.

Kalau memang lagi sibuk banget, bilang aja: "Bu, aku lagi di kelas, nanti sore aku kabarin ya." Itu jauh lebih baik daripada dibalas stiker jempol. Setidaknya ortu tahu kamu baca, kamu peduli, dan kamu bakal balik.

Salah Kaprah #5: Nunda Pulang Kampung Karena Ngerasa Belum "Berhasil"

Ini yang paling berat dan paling sering nggak disadari. Banyak mahasiswa perantau nunda pulang karena malu belum ada pencapaian, belum lulus, atau belum dapet kerja. Padahal ortu nggak pernah minta kamu pulang dengan gelar di tangan.

Gue pernah ngalamin ini. Satu semester nggak pulang karena ngerasa gagal di beberapa mata kuliah. Waktu akhirnya pulang, ibu cuma bilang, "Ya udah, yang penting kamu sehat." Nggak ada interogasi, nggak ada ceramah. Cuma pelukan dan masakan rumah.

Kalau kamu nunda pulang karena alasan-alasan kayak gini, kamu bukan cuma menghukum diri sendiri. Kamu juga bikin ortu kehilangan waktu bareng kamu. Dan waktu itu nggak bisa di-refund.

Mulai dari Hal Kecil, Mulai dari Sekarang

Nggak ada resep ajaib buat menjaga hubungan sama ortu dari jauh. Nggak perlu grand gesture atau kiriman hadiah tiap bulan. Yang dibutuhkan cuma konsistensi kecil-kecilan.

  • Set alarm buat nelpon ortu minimal sekali seminggu, bukan nunggu inget.
  • Kirim satu foto atau cerita receh tiap beberapa hari, biar komunikasi nggak selalu soal uang.
  • Balas chat dengan kalimat utuh, bukan cuma emoji.
  • Kalau mau pulang, pulang aja. Nggak perlu nunggu "lulus dulu" atau "sukses dulu".

Jarak itu nggak otomatis bikin hubungan renggang. Yang bikin renggang itu diam yang kelamaan, dan alasan-alasan yang kita bikin sendiri buat nunda. Jadi ya, mulai dari sekarang aja. Nelpon ortu nggak perlu nunggu momen spesial.

Tags: mahasiswa perantau hubungan keluarga pola asuh komunikasi orang tua parenting jarak jauh