Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
botosbiopharm.combotosbiopharm.com
botosbiopharm.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Gue Akui, Anak Lebih Dekat Sama Mbak Ketimbang Sam...

Gue Akui, Anak Lebih Dekat Sama Mbak Ketimbang Sama Gue

Cerita jujur seorang ayah yang sadar anaknya lebih akrab dengan pengasuh. Ini yang kami ubah pelan-pelan.

Malam itu gue pulang kerja jam sembilan lewat. Capek, kemeja udah kusut, kepala penuh sama deadline yang nggak kelar-kelar. Gue buka pintu, dan hal pertama yang gue dengar bukan "Ayah!" tapi suara anak gue yang lagi ketawa-ketawa sama Mbak Sri, pengasuh yang udah tiga tahun bantu di rumah.

Gue masuk, nyapa. Anak gue, Aldi, umur lima tahun, cuma nengok sebentar, terus balik lagi main puzzle sama Mbak-nya. Nggak ada pelukan. Nggak ada cerita soal hari ini. Rasanya kayak gue ini tamu yang mampir, bukan bapak yang tinggal di situ.

Gue nggak marah sama Mbak Sri. Dia kerja bagus, malah mungkin lebih sabar dari gue. Yang bikin perih itu kesadaran bahwa anak gue lebih nyaman sama orang yang ngurusin dia tiap hari, bukan sama bapaknya yang cuma ketemu dua jam sehari — itupun setengahnya sambil megang HP.

Baca juga: Di Rumah Mertua, 5 Sinyal Ini Sering Diabaikan Ibu Muda

Kejadian kecil yang bikin gue sadar

Beberapa hari setelah malam itu, Aldi jatuh dari sepeda. Lututnya lecet, dia nangis kencang. Naluri gue sebagai bapak langsung jalan — gue lari, mau gendong. Tapi apa yang terjadi? Dia malah ngejauh, lari ke arah Mbak Sri, dan nyemplung ke pelukannya.

Gue berdiri di situ kayak orang bodoh. Istri gue, Rina, cuma natap gue, nggak ngomong apa-apa. Tapi matanya bilang banyak hal.

"Kamu nggak salah kok. Cuma, anak itu deket sama siapa yang hadir, bukan sama siapa yang punya nama di akta."

Kalimat Rina itu nempel di kepala gue berhari-hari. Dan dia bener. Gue hadir secara fisik, tapi seringnya nggak hadir secara batin. Pulang bawa laptop, buka email sambil anak main di karpet. Ada di ruangan yang sama, tapi nggak benar-benar bareng.

Bukan soal jam, tapi soal kualitas yang nyata

Gue sempat mikir, ah, namanya juga kerja di Jakarta. Macet, jam pulang nggak tentu, tuntutan kantor. Semua bapak juga gitu, kan? Tapi mikir gitu terus artinya gue cuma nyari pembenaran.

Yang gue pelajari dari beberapa bulan terakhir: kedekatan anak itu nggak diukur dari berapa lama kamu di rumah, tapi dari seberapa hadir kamu saat di rumah. Dua jam main beneran, tanpa HP, jauh lebih ngena daripada lima jam duduk bareng tapi mata ke layar.

Ini yang gue dan Rina coba ubah pelan-pelan. Nggak revolusioner, nggak pakai aplikasi parenting aneh-aneh. Cuma beberapa hal kecil yang ternyata efeknya kerasa.

Yang kami lakukan di rumah

  • Ritual 20 menit tanpa gadget. Sepulang kerja, sebelum mandi atau buka laptop, gue duduk sama Aldi. Nggak harus ngapain — kadang cuma nonton dia gambar, kadang dengerin cerita nggak jelas soal dinosaurus. HP kutinggal di kamar.
  • Bagi tugas malam. Dulu semua urusan mandi dan tidur dipegang Mbak. Sekarang gue yang mandiin Aldi tiga kali seminggu. Ribet, air kemana-mana, tapi justru di situ obrolan muncul.
  • Weekend satu hari milik anak. Sabtu atau Minggu, satu hari penuh kami nggak bawa kerjaan. Nggak harus mahal — taman kota, naik KRL muter-muter, atau masak bareng di dapur.
  • Libatkan Mbak, bukan saingin dia. Ini penting. Mbak Sri bukan lawan. Kami malah minta dia cerita soal kebiasaan Aldi, hal yang dia suka, hal yang bikin dia rewel. Jadi gue tahu harus nyambung dari mana.

Rina juga ngelakuin hal serupa. Dia mulai ajak Aldi belanja ke pasar pagi, hal yang dulu selalu dilewati karena "nggak efisien". Ternyata anaknya seneng banget, dan pulang bawa cerita yang nggak habis-habis.

Kenapa keluarga kecil di kota gampang kena ini

Gue nggak mau sok tahu soal keluarga lain. Tapi dari ngobrol sama temen-temen kantor yang sama-sama punya anak kecil, polanya mirip. Di kota besar, waktu itu barang mewah. Komuter makan dua jam sehari. Kerjaan nggak selesai di kantor, ikut pulang lewat grup chat.

Dan karena capek, sisa energi yang ada biasanya dipakai buat hal yang gampang: rebahan, scroll HP. Bukan buat duduk di lantai main lego. Wajar secara manusiawi, tapi kalau dibiarin bertahun-tahun, jaraknya makin lebar.

Yang lebih bahaya lagi, kita sering nggak sadar. Kita pikir anak masih kecil, belum ngerti apa-apa. Padahal mereka ngerti banget siapa yang ada buat mereka. Anak nggak butuh bapak yang sempurna. Dia cuma butuh bapak yang benar-benar ada.

Hasilnya nggak instan, dan itu wajar

Gue nggak mau bohong bilang semuanya langsung berubah. Nggak. Dua minggu pertama, Aldi masih lebih milih Mbak. Gue sempat kecewa, hampir nyerah, balik lagi ke pola lama.

Tapi sekitar bulan kedua, ada momen kecil. Aldi lagi main, terus tiba-tiba manggil, "Ayah, liat deh!" Dan dia nunjukin gambar yang dia bikin. Bukan Mbak. Gue. Sepele, tapi buat gue itu kayak menang lotre.

Beberapa minggu kemudian dia mulai minta gue yang mandiin, bukan Mbak. Katanya, "Ayah lebih seru main airnya." Oke, itu artinya gue berhasil bikin kamar mandi banjir. Tapi ya sudahlah.

Sekarang, hubungan gue sama Aldi jauh lebih hangat. Bukan karena gue tiba-tiba jadi bapak teladan, tapi karena gue mulai hadir beneran. Dan lucunya, Rina juga jadi lebih tenang. Dulu dia sering kesel karena ngerasa ngurus anak sendirian secara emosional. Sekarang kami beneran satu tim.

Kalau kamu ada di posisi yang mirip — pulang capek, anak lebih deket sama pengasuh atau kakek-neneknya — jangan langsung nyalahin diri sendiri atau siapa pun. Mulai aja dari satu hal kecil minggu ini. Dua puluh menit tanpa HP, duduk di lantai, dengerin anak ngomong. Nggak usah muluk-muluk. Anak nggak butuh yang sempurna, kok. Dia cuma butuh kamu, beneran kamu, yang hadir.

Tags: pengasuhan anak hubungan keluarga orang tua sibuk keluarga urban kedekatan anak