Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
botosbiopharm.combotosbiopharm.com
botosbiopharm.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Sering Minta Ditemani, Ortu Sering Traveling?...

Anak Sering Minta Ditemani, Ortu Sering Traveling? Coba 5 Langkah Ini

Buat kamu yang sering dinas luar kota tapi tetap ingin dekat sama anak, ini panduan langkah demi langkah yang realistis, bukan teori.

Anak Sering Minta Ditemani, Ortu Sering Traveling? Coba 5 Langkah Ini

Gue pernah ngalamin masa di mana koper belum sempat dibuka penuh, udah harus packing lagi buat dinas. Dan tiap kali pamitan, anak gue cuma diam, tapi matanya ngikutin sampai pintu ketutup. Rasanya? Kayak ditusuk pelan-pelan. Kamu yang sering di jalan pasti ngerti lah ya.

Masalahnya, banyak artikel soal parenting ditulis buat orang yang tiap hari ada di rumah. Padahal kita ini orang yang sering banget nggak di rumah. Bukan karena nggak peduli, tapi ya memang kerjaannya begitu. Jadi gue mau bagi pengalaman dan langkah-langkah yang gue coba sendiri, yang akhirnya lumayan berhasil bikin anak tetap merasa "ada" meskipun gue sering nggak kelihatan.

Mulai dari Ngaku Dulu: Kamu Nggak Bisa Jadi Ortu Full-Time

Langkah pertama ini paling nggak enak, tapi paling penting. Terima dulu kenyataan bahwa kamu nggak akan bisa hadir 24 jam. Banyak ortu yang sering traveling terjebak di dua ekstrem: merasa bersalah terus-menerus, atau malah pura-pura semuanya baik-baik aja.

Baca juga: Di Rumah Mertua, 5 Sinyal Ini Sering Diabaikan Ibu Muda

Dua-duanya capek. Yang pertama bikin kamu nggak fokus kerja, yang kedua bikin anak merasa diabaikan tapi nggak tahu cara ngomongnya.

Yang gue lakukan waktu itu sederhana: ngobrol sama anak, sejujur mungkin sesuai umurnya. Bukan drama "papa pergi demi masa depanmu", tapi lebih ke, "minggu ini papa harus ke luar kota tiga hari. Selama itu kita tetap ngobrol tiap malam, ya." Anak itu lebih paham daripada yang kita kira, asal kita nggak bohong dan nggak janji yang nggak bisa ditepati.

Anak nggak butuh ortu yang selalu ada. Anak butuh ortu yang bisa diandalkan saat dia butuh.

Bikin Ritual Kecil yang Nggak Bisa Ditawar

Ini langkah kedua, dan menurut gue ini yang paling ngefek. Kuncinya bukan durasi, tapi konsistensi. Kamu nggak perlu video call dua jam tiap hari — itu nggak realistis dan malah bikin anak bosan. Yang penting ada ritual yang selalu ada, apa pun kondisinya.

Contoh yang gue pakai:

  • Video call singkat sebelum tidur. Lima sampai sepuluh menit aja. Fokusnya bukan nanya "sudah makan belum", tapi dengerin cerita random anak soal temannya atau kartun yang dia tonton.
  • Voice note pagi. Gue kirim voice note pendek sebelum berangkat kerja, isinya kadang cuma "selamat pagi, semangat sekolah ya". Anak dengerin sambil sarapan.
  • Foto receh. Gue kirim foto makanan di hotel, foto awan dari jendela pesawat, apa aja. Anak jadi tahu gue ada di mana dan dia bisa bales dengan foto mainannya.

Yang penting: ritual ini jangan sampai bolong karena kamu capek atau lupa. Justru di saat-saat capek itulah anak paling butuh bukti bahwa janjinya ditepati.

Jangan Cuma Nanya, Cerita Juga

Sering banget ortu traveling cuma jadi pewawancara: "Gimana sekolah? Nilainya berapa? Ada PR?" Anak lama-lama males jawab. Coba balik arah: ceritain hari kamu. Anak kecil itu suka banget denger cerita orang dewasa, apalagi soal hal-hal yang menurut kita biasa aja.

Gue pernah cerita soal taksi yang nyasar, dan anak gue ketawa ngakak dengerinnya. Sejak itu, dia selalu nanya, "Hari ini ada cerita lucu nggak?" Nah, dari situ obrolan jadi dua arah, bukan interogasi.

Siapkan "Wakil" di Rumah dan Rawat Hubungannya

Kalau kamu sering pergi, kamu butuh orang yang jadi jangkar anak di rumah. Bisa pasangan, nenek, kakek, atau pengasuh. Tapi jangan cuma numpang titip — rawat hubungannya juga.

Gue belajar dari kesalahan sendiri di sini. Dulu gue mikirnya, "yang penting anak aman dan terurus." Ternyata anak nggak cuma butuh aman, dia butuh merasa dimengerti. Dan orang yang paling ngerti dia sehari-hari ya yang nemenin dia sehari-hari. Jadi gue mulai rutin ngobrol sama pengasuh anak gue, nanya detail kecil: dia lagi suka makanan apa, lagi takut apa, lagi deket sama teman yang mana.

Dari situ, waktu gue video call, gue bisa nyambung. Anak ngerasa gue "nyambung" sama dunianya, bukan cuma nanya-nanya dari luar.

Bikin Momen Pulang Jadi Beda dari Hari Biasa

Nah, ini langkah keempat yang sering dilupain. Waktu kamu pulang, jangan langsung tenggelam di urusan rumah atau kerjaan yang numpuk. Bikin satu-dua jam yang jelas-jelas buat anak, dan bikin itu terasa spesial.

Nggak perlu mahal. Kadang gue cuma nemenin anak bikin roti bakar sambil dengerin dia cerita panjang lebar. Atau jalan sore keliling kompleks naik sepeda. Yang penting anak tahu: "Oh, papa pulang, berarti ada waktunya buat aku."

Tapi hati-hati juga, jangan semua momen pulang dijadikan "hari raya" sampai anak kecewa berat kalau kamu cuma bisa main sebentar. Kadang cukup bilang jujur: "Hari ini papa harus beresin kerjaan dulu, tapi nanti malam kita baca buku bareng." Anak lebih tenang kalau tahu kapan waktunya, daripada digantung.

Jangan Lupa Jaga Diri Sendiri

Ini yang paling sering diabaikan, padahal penting banget. Kamu nggak bisa jadi ortu yang hangat kalau kamu sendiri habis. Sering traveling itu capek fisik dan mental. Kalau tiap pulang kamu cuma jadi orang yang gampang marah dan gampang lelah, anak akan merasa kehadiranmu justru bikin tegang.

Gue akui, dulu gue sering maksain diri: baru turun dari pesawat langsung ngajak anak main, padahal badan udah remuk. Hasilnya? Gue gampang kesel, anak bingung, dan momen yang harusnya hangat jadi keributan kecil. Sekarang gue lebih jujur: "Papa capek, tidur satu jam dulu ya, habis itu kita main." Anak malah belajar soal batasan dan kejujuran.

Jadi ya, tidur yang cukup, makan bener, dan jangan merasa bersalah kalau butuh waktu sendiri sebentar. Anak butuh ortu yang utuh, bukan ortu yang selalu ada tapi kosong.

Yang Perlu Kamu Ingat

Nggak ada rumus sempurna buat ngasuh anak sambil sering di jalan. Kadang kamu bakal ngerasa gagal, kadang anak bakal ngambek karena kamu nggak bisa datang ke acara sekolah. Itu normal. Yang bikin beda adalah apakah kamu terus balik dan nyoba lagi, atau malah menyerah dan bilang "ya udah, namanya juga kerja".

Anak itu nggak menghitung berapa hari kamu nggak di rumah. Anak menghitung seberapa sering kamu benar-benar hadir saat kamu ada — meskipun cuma lewat video call lima menit sebelum dia tidur. Mulai dari langkah kecil itu dulu aja. Nanti pelan-pelan kamu nemu ritme sendiri yang cocok buat keluarga kamu.

Dan satu lagi: jangan bandingin diri kamu sama ortu lain di media sosial yang kelihatannya selalu ada di rumah. Kamu punya jalan cerita sendiri, dan anak kamu cuma butuh satu hal — kamu, versi yang berusaha, bukan versi yang sempurna.

Tags: parenting jarak jauh hubungan orangtua anak tips mengasuh anak orangtua sering traveling quality time keluarga